GHOLIBAN : Madu Kalimantan (beepollen dan royal jelly)

Madu hutan kalimantan gholiban adalah madu asli yang diambil langsung dari sarang lebah liar apis dorsata dari dari hutan Kalimantan.

BAHASA ARAB DI HARI PERTAMAKU MENGAJAR

Hari ini menjadi hari pertama aku mengajar bahasa Arab di semester 2, tepat di hari Senin tanggal 16 Januari 2017..

Kisah Umar Bin Khattab Part.1 : Sentuhan Hidayah

Umar bin Khattab adalah salah seorang yang keras permusuhannya kepada Nabi Muhammad saw. Begitu kuat hasratnya untuk membunuh beliau..

Antara Sambutan dan Roasting

Roasting adalah metode Stand Up yang seringkali digunakan oleh komedian untuk menyerang seseorang namun dengan cara yang unik.

Inferior

Apa sih inferior itu? Melihat dari makna yang termaktub di KBBI online, inferior berarti bermutu rendah, (merasa) rendah diri.

Sabtu, 30 Mei 2020

Inspiratif - Hikmah Membaca Al Quran


Sudah menjadi rutinitas bagi kami, santri Ponpes Nurul Burhan di setiap sore hari Jumat, ngaos sareng Surah Al Kahfi. Dengan harapan ngalap barokah dawuhe Kanjeng Nabi Muhammad seputar Fadhilah Surat AL Kahfi.  Sebelum ngaji, ada kisah yang aku dapatkan dari grup WA. Selanjutnya aku sampaikan ke seluruh jamaah santri. Bagaimana bijaknya Kakek dalam memberi penjelasan kepada sang cucu, kala dia bertanya-tanya:     kenapa sih kita harus membaca Al Quran yang bahasanya adalah bahasa asing, bahkan harus diulang-ulang lagi.     Cucu    : “Kek, kenapa sih kita kudu baca Al Quran berulang, padahal Al Quran kan bukan bahasa kita?”  Kakek  : “Hmmmm... (mendesah). Sebentar,coba kau ambil wadah sampah di samping rumah, bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”  Cucu itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakek tersebut tertawa dan berkata,  “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali.”  Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini Cucu itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.Kakek berkata,  “Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ”  dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi.  Pada saat itu, Cucu itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Cucu itu kembali mengambil dan mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata :  ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.  Sang kakek menjawab : “Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu.”  Cucu itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ”  Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.  Subhanallah sekali bukan? Semoga setelah membaca kisah ini, kita jadi semakin semangat membaca Al-Qur’an disertai semangat untuk mempelajarinya. Barokallohu fik, semoga kisah ini bermanfaat. Amin     Kedungprahu, 02 02 19
Sudah menjadi rutinitas bagi kami, santri Ponpes Nurul Burhan di setiap sore hari Jumat, ngaos sareng Surah Al Kahfi. Dengan harapan ngalap barokah dawuhe Kanjeng Nabi Muhammad seputar Fadhilah Surat AL Kahfi.

Kepercayaan Kuno - Tengeng dan Bantal

Apa sih tengeng? 
Dari bahasa mana tengeng itu? 
Orang Jawa bilangnya tengengen

Jumat, 29 Mei 2020

Pantangan Jawa - Menunjuk Pelangi (Ojo Nduding Pelangi)


“Huss.. Ojo Nduding Pelangi. Ngkoo dadi Ciker Derijine!!” kata Mbah ku. “Huss... Jangan menunjuk ke pelangi (pakai jari) nanti tangannya  melungker (bengkok) tidak bisa lurus)    Ada saja hal yang aneh yang disampaikan oleh Mbah Tini, mbahku yang saat ini berumur sekitar 78 tahun. Sebagai seorang keturunan Jawa aku selalu tertarik dengan adat kebiasaan atau pantangan-pantangan orang dulu. Orang bilang,  orang kuno satu di antaranya ya seperti yang disampaikan oleh Mbah ku ini.  Aku coba cari informasi si ke sana-sini dan ke Google tentunya,  tidak aku temukan pantangan untuk berani menunjuk Pelangi selain sebuah artikel yang dimuat di salah satu situs, bahwa orang Dayak Kalimantan juga mempunyai pantangan yang sama- dilarang menunjuk Pelangi. Kenapa demikian?  Entahlah.  Orang dulu kebanyakan memandang Pelangi sesuatu yang luar biasa tanpa ada hitung-hitungan ilmu sains seperti saat ini mereka menganggap pelangi itu spesial,  di mana bidadari dari langit turun ke bumi untuk mandi . Benar atau tidak, ajaran orang dulu pasti ada hikmah yang besar yang bisa diambil oleh orang-orang jaman now. Meski kelihatannya nggak rasional. Sama sekali.  Hal yang baru yang patut aku tulis dan aku sampaikan ke orang-orang supaya menghormati ciptaan tuhan.  Pelangi-pelangi  Alangkah indahmu  Merah kuning hijau dilangit yang biru  Pelukismu agung  Siapa gerangan  Pelangi pelangi ciptaan Tuhan     Ngawi, 29 Mei 2020.
“Huss.. Ojo Nduding Pelangi. Ngkoo dadi Ciker Derijine!!” kata Mbah ku. “Huss... Jangan menunjuk ke pelangi (pakai jari) nanti tangannya  melungker (bengkok) tidak bisa lurus)

 

Rabu, 27 Mei 2020

Khutbah Syawwal 01

Monggo kito tansah ningkataken takwa kito dumateng ngarsanipun Gusti Allah swt kanthi