Oleh-oleh
Dari Kampung Banaran
Siang itu jalanan di Kampung Banaran
tidaklah tampak ramai, aspal yang memanjang membelah perkampungan terlihat
hanya dilewati motor beroda dua, mobil tampaknya tidak terlalu banyak yang
lewat. Maklum jalan ini bukan jalan umum layaknya di kota. Aku adalah rombongan
yang datang paling terakhir dari iring-iringan pengantin, bareng mobil Suzuki
Putih milik Podo.
| kalau sudah halal ya boleh saja |
Para tamu undangan terlihat sudah
memenuhi kursi yang sudah disediakan, penuh sehingga tidak ada satupun kursi
yang kosong. Aku coba mengitarkan pandangan mencari dua sosok pengantin,namun
hasilnya nihil. Mereka berdua tidak ada.
“Mana pengantinnya?” tanyaku pada
Kang Madi, tetanggaku yang ikut iring-iring pengantin.
“Itu di dalam rumah,” jawabnya sambil
menunjuk rumah.
Aku lihat di luar pintu, banyak
sendal berjubel pertanda banyak orang di dalamnya.
“Lagi melangsungkan akad di dalam,”
jawab Kang Madi saat aku tanya acara apa di dalam.











